Riwayat Hidup
"..Maka katakanlah (hai
Muhammad): mari kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian..
."(Surah Al-lmran 61)
"Sesungguhnya Allah SWT
menjadikan keturunan bagi setiap nabi dan dari tulang sulbinya
masing-masing, tetapi Allah menjadikan keturunanku dan tulang sulbi Ali
bin Abi Thalib". (Kitab Ahlul Bait hal. 273-274)
"Semua anak Adam bernasab
kepada orang tua lelaki (ayah mereka), kecuali anak-anak Fathimah.
Akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka."(Tafsir Al Manar,
dalam menafsirkan Surah al-An’am ayat 84)
Satu
ayat di atas serta dua hadis di bawahnya menunjukkan bahwa Hasan dan
Husein adalah kecintaan Rasul yang nasabnya disambungkan pada dirinya.
Hadis yang berbunyi: "Tapi Allah menjadikan keturunanku
dari tulang sulbi Ali Bin Abi Thalib", menunjukkan bahwa
Rasulullah yang tidak berbicara karena kemauan hawa nafsu kecuali wahyu
semata-mata, ingin mengatakan bahwa Hasan dan Husein adalah anaknya
beliau saww. Begitu juga hadis kedua, beliau mengungkapkan bahwa anak
Fathimah bernasab kepada dirinya saww. Pernyataan tersebut dipertegas
oleh ayat yang di atas, dimana Allah sendiri menyebut mereka dengan
istitah ‘anak-anaknya’ yakni putra-putra Muhammad Rasululullah
saww.
Nabi
juga sering bersabda: "Hasan dan Husein adalah anak-anakku". Atas dasar
ucapan nabi inilah, Ali bin Abi Thalib berkata kepada anak-anaknya yang
lain: "Kalian adalah anak-anakku sedangkan Hasan dan Husein adalah
anak-anak Nabi". Karena itulah ketika Rasulullah saww masib hidup
mereka berdua memanggil nabi saww "ayah". Sedang kepada Imam Ali a.s.
Husein memanggilnya Abu Al Hasan, sedang Hasan memanggil sebagai Abu
al-Husein. Ketika Rasulullah saww berpulang kerahmat Allah, barulah
mereka berdua memanggil hadrat Ali dengan "ayah".
Beginilah kedekatan nasab mereka berdua kepada Rasululullah saww. Sejak
hari lahirnya hingga berumur tujuh tahun Hasan mendapat kasih sayang
serta naungan dan didikan langsung dari Rasululullah saww, sehingga
beliau dikenal sebagai seorang yang ramah, cerdas, murah hati,
pemberani, serta berpengetahuan luas tentang seluruh kandungan setiap
wahyu yang diturunkan saat nabi akan menyingkapnya kepada para
sahabatnya.
Dalam
kesalehannya, beliau dikenal sebagai orang yang saleh, bersujud dan
sangat khusyuk dalam shalatnya. Ketika berwudhu beliau gemetar dan di
saat shalat pipinya basah oleh air mata sedang wajahnya pucat karena
takut kepada Allah SWT. Dalam belas dan kasih sayangnya, beliau dikenal
sebagai orang yang tidak segan untuk dengan pengemis dan para
gelandangan yang bertanya tentang masalah agama kepadanya.
Dari
sifat-sifat yang mulia inilah beliau tumbuh menjadi seorang dewasa yang
tampan, bijaksana dan berwibawa. Setelah kepergian Rasulullah saww
beliau langsung berada di bawah naungan dan didikan ayahnya Ali bin Abi
Thalib a.s. Hampir tiga puluh tahun, beliau bernaung di bawah didikan
ayahnya, hingga akhirnya pada tahun 40 Hijriyah. Ketika ayahnya
terbunuh dengan pedang beracun yang dipukulkan Abdurrahman bin Muljam,
Hasan mulai menjabat keimamahan yang ditunjuk oleh Allah SWT.
Selama
masa kepemimpinannya, beliau dihadapkan kepada orang yang sangat
memusuhinya dan memusuhi ayahnya, Muawiyah bin Abi Sofyan dari bani
Umayyah. Muawiyah bin Abi Sofyan yang sangat herambisi kepada kekuasaan
selalu merongrong dan menyerang Imam Hasan a.s. dengan kekuatan
pasukannya. Sementara dengan kelicikannya dia menjanjikan hadiah-hadiah
yang menarik bagi jenderal dan pengikut Imam Hasan yang mau menjadi
pengikutnya.
Karena
banyaknya pengkhianatan yang dilakukan pengikut Imam Hasan a.s. yang
merupakan akibat bujukan Muawiyah, akhirnya Imam Hasan menerima tawaran
darinya. Perdamaian bersyarat itu dimaksudkan agar tidak terjadi
pertumpahan darah yang lebih banyak di kalangan kaum muslimin. Namun,
Muawiyah mengingkari seluruh isi perjanjian itu. Kejahatannya pun
semakin merajalela, khususnya kepada keluarga Rasulullah saww dan orang
yang mencintai mereka akan selalu ditekan dengan kekerasan dan
diperlakukan dengan tidak senonoh.
Dan
pada tahun 50 Hijriah, beliau dikhianati oleh isterinya, Ja'dah putri
Ash'ad, yang menaruh racun diminuman Imam Hasan. Menurut sejarah,
Muawiyah adalah dalang dari usaha pembunuhan anak kesayangan Rasulullah
saww ini.
Akhirnya manusia agung, pribadi mulia yang sangat dicintai oleh
Rasulullah kini telah berpulang ke rahmatullah. Pemakamannya dihadiri
oleh Imam Husein a.s. dan para anggota keluarga Bani Hasyim. Karena
adanya beberapa pihak yang tidak setuju jika Imam Hasan dikuburkan
didekat maqam Rasulullah dan ketidaksetujuannya itu dibuktikan dengan
adanya hujan panah ke keranda jenazah Imam Hasan a.s. Akhirnya untuk
kesekian kalinya keluarga Rasulullah yang teraniaya terpaksa harus
bersabar. Mereka kemudian menglihkan pemakaman Imam Hasan a.s. ke
Jannatul Baqi' di Madinah. Pada tanggal 8 Syawal 1344 H (21 April 1926)
kemudian, pekuburan Baqi' diratakan dengan tanah oleh pemerintah yang
berkuasa di Hijaz.